Kamis, 22 Desember 2016

Sok Puitis

Aku memilih lelaki yang mencintaiku bukan tanpa alasan. Melainkan cinta yang akan dengan mudahnya tumbuh dalam diri ini.

Cintai aku, maka aku akan terdorong untuk semakin mencintaimu. [William Arthur Ward]

***



Hari itu, hari dimana aku mulai bisa melihat akan sosok hadirmu. Mencoba ingin dekat denganmu, perlahan tapi pasti aku mulai dekat denganmu. Aku akui, diri inilah yang memulai untuk mendekat padamu. Tak dapat dipungkiri lagi, aku jatuh hati padamu. Kupikir ini adalah cinta sesaat, tetapi sampai dimana aku mulai menyadari bahwa ini adalah awal dimana aku mau membuka kembali sebuah lembaran baru dalam percintaan. Setelah gagal dalam hal percintaan, dimana hanya dirikulah yang merasakan apa itu cinta dan sakit disaat yang bersamaan. Tidak dengan dirinya yang tak tahu menahu akan rasa cinta dan sakit yang terlukis setiap aku melihat dirinya. 

Sebelum aku mencoba untuk membuka kembali hati ini, aku pernah trauma akan rasa cinta. Mencintai dalam kesia-siaan. Cinta anak remaja. 
Diumur yang baru menginjak angka 15 tahun aku sudah mengenal sakitnya akan cinta. Senang dengan melihat dirinya tersenyum bisa sedikit meredakan rasa amarah, cemburu, dan perih dihati ini. Dia yang menebar benih asmara itu padaku, tapi ia tak mau bertanggung jawab akan akibatnya. Setelah dia membuat wanita jatuh pada pesonanya, dia meninggalkan wanita itu dan bermain dengan teman dari wanita yang ia tinggalkan. Ironis.

Selama satu tahun aku mencoba bangkit, tetapi tidak semudah ketika aku mencintainya. Melupakannya amatlah sulit. Butuh tekad yang bulat dan ketidak pedulian yang besar untuk menghilangkan bayangnya dalam diri ini.
Selama satu tahun itu juga aku berubah menjadi sosok yang pendiam, tak mau berinteraksi dengan kebanyakan orang. Aku menjadi seorang yang individualis.

Disaat aku sedang mencoba bangkit itulah aku bertemu dengan sosok lelaki itu. Lelaki yang membuat hati ini lupa akan rasa sakit yang sempat singgah di hati. 

Masa terbaik dalam hidupku pun dimulai. Aku mempunyai sahabat yang sudah kuanggap sebagai keluarga, kekasih hati yang menyayangiku, aku merasa memiliki segalanya. Hingga aku mulai merasa egois. Aku ingin sebuah kebebasan, aku ingin bermain dengan lelaki tanpa adanya larangan, padahal disatu sisi aku sudah mempunyai kekasih. Aku lupa diri, dan melupakan bahwa sesabar-sabarnya orang pasti akan pecah juga amarahnya. Kejadian hari itu masih terngiang dalam pikiranku. Kejadian yang membuat aku menjadi liar. 

GAGAL.

Lagi-lagi aku gagal dalam hal percintaan. 
Aku cukup pandai dalam menilai hubungan seseorang, tapi mengapa aku sulit untuk menilai hubungan yang sedang ku jalani. 

Aku. Orang dengan ego yang tinggi, keras kepala, dan cepat merasa bosan dengan sebuah keterikatan hubungan yang serius bertemu dengan seseorang yang memiliki sifat keterbalikan denganku. Dia, sosok lelaki yang pernah menjadi sebagian dari hidupku itu sangat dewasa, sabar, dapat diandalkan, pasrah dengan segala keputusan yang aku buat sendiri dan yang tak ketinggalan adalah dia menyayangiku.

Bodoh.
ya! Aku memang bodoh. meninggalkan lelaki yang seperti itu hanya karena sebuah perasaan jenuh. Kini aku hanya bisa tersenyum miris ketika memikirkan kebodohan yang kuperbuat.


Dengan tidak inginnya aku merasakan hal yang sama. Aku berusaha agar tidak terbuai untuk kesekian kalinya dengan pesona jahat lelaki. Tidak ingin aku bersombong diri tetapi, beberapa lelaki kini banyak yang mendekatiku dan lebih sering ku tolak. Mengapa? Aku ingin memantapkan hati ini agar nantinya dapat bertemu dengan seorang lelaki yang akan menjaga hatiku sepenuh ia menjaga hatinya sendiri.

Aku menginginkan sesosok lelaki yang mencintaiku, aku memang memiliki tipe ideal. Tetapi cobalah kau berfikir ulang tentang lelaki idamanmu itu. Mereka akan kalah dengan hadirnya sesosok lelaki yang mencintaimu dengan tulus. Semakin kau nyaman dengan hadirnya mereka, semakin tumbuh pula rasa cintamu padanya. 

Berusaha untuk tidak mencintai seseorang ketika kau sedang mencoba untuk melupakan seseorang. 

1 komentar: