Gue itu kayak anak burung yg baru bisa terbang, terbang tinggi semau dia.
Saat lagi diatas tiba tiba ada angin besar yg membuat si burung itu jatuh, karena dia belum bisa mengimbangi sayapnya yg masih kecil. Sayap itu rusak dan badannya penuh luka saat dibumi. Karena burung kecil itu rapuh, masih terlalu kecil untuk terbang tinggi seorang diri. Terkadang anak burung itu juga nekat mencoba keluar dari sarangnya yg tinggi hanya untuk bisa terbang jauh pergi menjauhi sarangnya, dan ketika ia sudah berada jauh dan berada di tempat yg asing baginya. Ia hanya bisa berdiam ditempat menunggu sang induk akan mencarinya. Berdiam sambil berjalan dan mencoba mencari arah jalan pulang. Tapi nyatanya, induknya tak mencarinya dan ia tak tahu akan kemana ditempat yg luas itu. Akhirnya ia hanya bisa bersandar pada batang pohon yang dingin berharap ada yg berbaik hati dengannya. Ia menunggu terus dan terus menunggu hingga akhirnya ia mati karena kelaparn dan kedinginan. Itu hampir sama seperti ketika kita menunggu sesorang yang mungkin tak kan pernah bisa untuk kita. Kita terlalu bodoh, kita pergi menjauhi batas batas yang kita buat dan saat kita sudah berada jauh dari batasan itu dengan suasana yg asing, kita bisa apa? Hanya berdiam dan menunggu seseorang akan membantu kita. Nyatanya tidak ada yang membantu kita. Sisanya kita hanya bisa bersandar pada keheningan dan kedinginan dinding saja. Lama kelamaan rasa sayang dan perasaan kita akan mati untuknya mungkin juga untuk orang lain. Saat kita dibawa terbang tinggi olehnya, namun itu tak lama. Sesaat kemudian kita akan disadarkan dengan sebuah kejadian dimana ia akan menjatuhkan kita. Perasaan kita akan terluka ketika berada dibawah. Sayap dan badannya sama dengan perasaan dan cinta kita. Hati kecil kita akan semakin rapuh dan takut untuk diterbangkan lagi. Dan disaat itulah kita harus sadar bahwa dirinya bukan untuk kita.
Saat lagi diatas tiba tiba ada angin besar yg membuat si burung itu jatuh, karena dia belum bisa mengimbangi sayapnya yg masih kecil. Sayap itu rusak dan badannya penuh luka saat dibumi. Karena burung kecil itu rapuh, masih terlalu kecil untuk terbang tinggi seorang diri. Terkadang anak burung itu juga nekat mencoba keluar dari sarangnya yg tinggi hanya untuk bisa terbang jauh pergi menjauhi sarangnya, dan ketika ia sudah berada jauh dan berada di tempat yg asing baginya. Ia hanya bisa berdiam ditempat menunggu sang induk akan mencarinya. Berdiam sambil berjalan dan mencoba mencari arah jalan pulang. Tapi nyatanya, induknya tak mencarinya dan ia tak tahu akan kemana ditempat yg luas itu. Akhirnya ia hanya bisa bersandar pada batang pohon yang dingin berharap ada yg berbaik hati dengannya. Ia menunggu terus dan terus menunggu hingga akhirnya ia mati karena kelaparn dan kedinginan. Itu hampir sama seperti ketika kita menunggu sesorang yang mungkin tak kan pernah bisa untuk kita. Kita terlalu bodoh, kita pergi menjauhi batas batas yang kita buat dan saat kita sudah berada jauh dari batasan itu dengan suasana yg asing, kita bisa apa? Hanya berdiam dan menunggu seseorang akan membantu kita. Nyatanya tidak ada yang membantu kita. Sisanya kita hanya bisa bersandar pada keheningan dan kedinginan dinding saja. Lama kelamaan rasa sayang dan perasaan kita akan mati untuknya mungkin juga untuk orang lain. Saat kita dibawa terbang tinggi olehnya, namun itu tak lama. Sesaat kemudian kita akan disadarkan dengan sebuah kejadian dimana ia akan menjatuhkan kita. Perasaan kita akan terluka ketika berada dibawah. Sayap dan badannya sama dengan perasaan dan cinta kita. Hati kecil kita akan semakin rapuh dan takut untuk diterbangkan lagi. Dan disaat itulah kita harus sadar bahwa dirinya bukan untuk kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar